Rabu, 13 Maret 2013

Sejarah Mbah Priok: Sebuah Kontroversi?

(foto: berandakawasan.wordpress.com)
Kajian Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai Habib Hasan Alhadad seolah menjadi penguat dari keyakinan sejumlah kalangan yang dari awal membantah sejarah Tanjung Priok dikaitkan dengan keberadaan makam Habib Hasan Alhadad.

Sejarawan JJ Rizal dengan tegas menyebutkan Habib Hasan Alhadad bukan tokoh sejarah seperti yang dikisahkan selama ini. Menurut Rizal, Habib yang makamnya dikeramatkan itu meninggal sekitar awal tahun 1900. Bukan tahun 1756 seperti yang beredar di masyarakat.

Habib Hasan juga disebut JJ Rizal bukan tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa. Memang benar bahwa Habib Hasan Al-Haddad meninggal di kapal. Saat itu, beliau sebagai anak buah kapal yang sedang berlayar dari Palembang menuju pulau Jawa dalam rangka berziarah ke makam Wali Songo. Rute yang ditempuh Habib adalah Palembang, Bangka Belitung, dan ke Batavia atau Betawi. Tapi belum sampai di Batavia, beliau meninggal dunia.

Habib Hasan dimakamkan di Pondok Dayung. Dari situ, makam dipindahkan ke TPU Dobo. Pada tahun 1997, makam beliau dipindahkan ke Semper, Jakarta Utara.

Menurut sarjana lulusan Universitas Indonesia ini, makam yang di Koja hanya petilasan saja. Selain itu, memang tidak ada dalam silsilah dan literatur para habaib yang berkiprah mensyiarkan agama Islam di Batavia. Sebenarnya, leluhur Habib Hasanlah yang punya peran penting dalam syiar Islam di Jawa. Beliau bernama Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang sering disebut sebagai shahiburrotib yang meninggal pada tahun 1711. Dan Habib Hasan adalah generasi keenam dari Habib Abdullah Al-Haddad.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla juga menyebutkan dari data kelahiran dan kematian Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad ternyata tidak memiliki keturunan langsung.

Menurut Kalla, informasi tersebut adalah penting agar bila ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya adalah keturunan langsung dari Habib Hasan Al Hadad, maka hal tersebut perlu diklarifikasi lebih lanjut. Mantan Wakil Presiden RI ini juga melihat hal lainnya yang perlu diklarifikasi adalah soal perbedaan jangka waktu antara Habib Hasan Al Hadad yang wafat pada 1756 dan Zein bin Muhammad Al Hadad (saudara Habib Hasan) pada 1947.

Hal itu berarti memiliki rentang waktu sekitar 168 tahun, sehingga perlu diklarifikasi karena data tersebut menunjukkan bahwa Habib Zein kemungkinan berusia hampir 200 tahun. Sumber informasi Tim Investigasi PMI tersebut adalah berasal dari keterangan Pengurus Maqom Al Habib Abdulloh bin Abdurrahman Alaydrus dan Al Habib Ali bin Abdurrahman Alaydrus, serta Risalah Manaqib Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad dan Habib Zen bin Muhammad Al Hadad.

Pernyataan yang sama juga diungkapkan Ketua Tim Investigasi Kemanusiaan PMI, Ulla Nuchrawaty. Dipaparkannya, dari sumber informasi tersebut dituliskan bahwa Habib Hasan Al Hadad dilahirkan di Ulu Palembang, Sumatra Selatan pada 1727. Dalam perjalanannya untuk syiar Islam ke Pulau Jawa pada 1756, Habib Hasan meninggal dalam usia sekitar 29 tahun dalam keadaan masih bujangan.

Setelah 23 tahun kemudian atau 1779, pemerintah Belanda menjemput Zein bin Muhammad Al Hadad atau adik Habib Hasan untuk memastikan makam saudaranya. Adapun riwayat Habib Zein yang dianggap mempunyai hak atas tanah kuburan Dobo, wafat pada 1947. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dobo.

Habib Zein memiliki satu orang anak yaitu Habib Ahmad Zein dan cucu yang bernama Ali Alaydrus yang dalam kasus tersebut mengaku sebagai ahli waris. Dari risalah tersebut menunjukkan bahwa Habib Hasan bin Muhammad Al Hadad masih bujangan sehingga tidak memiliki keturunan langsung. Almarhum berniat, tetapi belum sempat melakukan syiar Islam di Tanah Jawa karena wafat dalam perjalanan di laut..

Pernyataan yang lebih tegas dikemukakan Alwi Shahab (Sejarawan Jakarta) serta Ridwan Saidi (Budayawan Betawi). Dalam sejumlah wawancara, keduanya mengungkapkan sejumlah pernyataan menarik terkait dengan riwayat hidup Habib Hasan Alhadad serta sejarah Tanjung Priok.

Menurut keduanya, sejarah penamaan Tanjung Priok yang berasal dari priok yang menyelamatkan Habib Al-Haadad dari tenggelamnya perahu dan setelah meninggal prioknya ditanam di samping makam, lalu di atas priok itu tumbuh pohon tanjung tidak tepat.

Konon yang benar, penamaan Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi, ketika itu masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal Perahu layar yang besar menyebut perahu Bangsa China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa. Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tunjung Priok, artinya Tanah Tempat Periuk Besar.

Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin Periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai.

Mengenai tahun kelahiran Habib Al-Haadad pada 1727 dan wafat pada 1756 juga diragukan. Data yang dimiliki keduanya menunjukkan bahwa Habib Hasan Al-Hadad adalah keturunan ketiga (cicit) dari Sultan Hamid dari Palembang. Sultan Hamid sendiri wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun (lahir 1750). Tentu sangat tidak mungkin cicit lebih dulu lahir daripada kakek buyutnya.

Begitu pun dengan informasi yang menyebutkan Habib Hasan Al-Hadad sebagai salah satu penyiar Islam di Pulau Jawa diragukan kebenarannya.

Habib Al-Haadad memang berniat untuk ziarah di Pulau Jawa. Dia mendengar kisah Sunang Gunjungjati dan para wali lainnya, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa. Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta).

Mengenai tanah makam yang diklaim sebagai milik Habib Hasan Alhadad menurut Alwi Shahab dan Ridwan Saidi juga keliru. Karena faktanya, Habib Hasan Alhadad merupakan Habib ke-11 yang dimakamkan di sana. Habib pertama yang dimakamkan di TPU Dobo adalah Habib Abdullah bin Alatas, seorang Habib dari Kebun Jeruk yang meninggal pada tahun 1760.

Selanjutnya masih ada 9 Habib lainnya sebelum terakhir Habib Hasan Alhadad. Yang paling terkenal dari 11 Habib itu adalah Habib Luar Batang yang hidup pada masa bersamaan dengan Habib Hasan Alhadad. Habib Luar Batang ini sangat dihormati oleh masyarakat Betawi..

Alwi Shahab meminta agar masalah Makam ‘Mbah Priok’ jangan dikaitkan dengan sejarah. Bila ada yang merasa sebagai ahli waris dan menganggap memiliki tanah tersebut, silahkan ditempuh jalur hukum. Berikut ini penuturan Alwi Shahab mengenai sejarah penyebaran Islam di Jakarta . *** (KF/berbagai sumber)

3 komentar:

  1. Bukti kekeramatan makam Mbah Priok melebihi makam-makam ditanah Arab:

    Habibina menyebutkan, pada 14 Maret 2000 lalu beberapa orang asing yang mengaku utusan dari berbagai negara, seperti Amerika, Jerman, Rusia, dan Australia, mendatangi ahli waris.

    Para ilmuwan ini, kepada ahli waris menuturkan, mereka melihat dari satelit terdapat sinar yang memancar dari Indonesia. Mereka menduga sinar tersebut merupakan senjata laser.

    "Kemudian orang-orang asing itu mendatangi lokasi untuk mencari sinar laser yang menurut mereka itu adalah senjata laser. Ketika dilihat ternyata berasal dari makam kramat ini," tuturny

    BalasHapus
  2. terlalu meng kramat kan suatu benda ataupun makam merupakan perbuatan sirik,jngn smpai kita mnjadi musrik, ingat dosa yg tak terampuni adalah sirik < memskutukan Allah swt>

    BalasHapus